06 May 2009

ONO DINO ONO UPO

Ono Dino Ono Upo oleh Lilik Gunawan “jago bisnis online”

ONO DINO ONO UPO

Free translationnya: “there’s always a rice for everyone, everyday “
Selalu ada sebutir nasi buat semua orang setiap hari.


Mbah guno rumekso is back…

Back…gedebug!

Ada apa Mbah?

Ini tak kiro kirik mau njegog, jebul kok malah nyathek, tak tendang sak kayange, walah malah gulinge Simbah kontal mbuh sampai ke mana tadi…

Oalah mimpi digigit anak anjing to Mbah?
Saya kira ada negara yang mau ngajak perang sama Indonesia terus tembakan nuklirnya ditendang sama Simbah…

Ada-ada aja Simbah, ngagetin tidur saya. Eh, nggak ding. Saya belum tidur. Saya masih merenungi nasihat Simbah tentang masalah krisis kebangsaan tadi sore.

Saya pikir-pikir, saya bolak-balik, ternyata memang ada benarnya. Malahan seratus persen benar.

Tadi Simbah alise dempuk dan matanya mendelik…

Itu pertanda bahwa Beliau sedang mengalami emotional ecstacy, jadi nggak boleh diganggu. Soalnya biasanya setelah mencapai puncaknya, akan keluar nasihat Simbah yang sangat bijaksana…

Ternyata betul juga!

Begini nasihatnya:
Ono Dino Ono Upo
Free translationnya: “there’s always a rice for everyone, everyday “
Selalu ada sebutir nasi buat semua orang setiap hari.

Beliau terus ngomong soal politik…saya lewati saja ya, nggak enak ah ngomongin politik, ntar bikin orang pada marah.

[lagian yang namanya jago bisnis online harus ngerti: politik is politik, jualan is jualan, business is business.]

[:-) Ingat selalu The Wisdom of Tukang Kaos and Tukang Sablon:
Apapun partainya, beli kaos dan nyablonnya di tempatku ya :-]

Rupanya para elit politik itu kurang begitu menyadari hal berikut ini…

Dulu ya kita pernah diajari prinsip ini, kepentingan bangsa dan negara Indonesia harus lebih dijunjung-tinggi dibanding kepentingan pribadi dan golongan.

Nah, masalahnya, rata-rata tingginya kita orang Indonesia cuma sekitar 150 - 170 cm. Sedangkan orang Amerika 170 - 200 cm…

Pantas aja kita kurang bisa menjunjung-tinggi kepentingan bangsa dan negara, soalnya tingginya kita memang kurang tinggi dibanding orang Amerika.

[maaf survei ini yang mengadakan Simbah saya, waktu saya tanya margin of errornya, Simbah njawab 99,9%. Lha Mbah, itu berarti ngoyo woro alias ngibul? Ya nggak, kan masih ada kebenarannya 0,1%. Lumayan kan?]

[penelitian kayak gitu kok ya bisa-bisanya dapet cum laude graduate dari UPSP atau University of Pillow Smell Pissed (baca PROFIL SIMBAH bag. 3 ya, bagi yang belum kenal UPSP itu universitas apa dan di mana).

Maksud Simbah gini, kalau kita tingginya cuma 165 cm, terus kita bisa berada di atas sana, di gedung wakilnya rakyat, kan berarti kita ancik-ancik, atau dengan kata lain kita berdiri di atas pundak atau kepala [!!!] orang lain, yaitu para pendukung kita: rakyat.

Nah, seharusnya ketika kita sudah berada di atas, kita nggak boleh lupa sama yang berada di bawah kita.

Masih ingat kunci keberhasilan dan kesuksesan hidup di dunia?

Nasihat Simbah Guno Rumekso:

KUNCI SUKSES ADALAH
Makan kenyang,
Tidur nyenyak,
Be-a-be lancar.

Minimal kunci sukses ini harus benar-benar diperjuangkan oleh para elit yang ahli bermain politik di gedung wakil rakyat itu, jangan malah pura-pura lupa sama yang dijadikan ancik-ancik…

Coba kalau yang di bawah nggleyor alias sempoyongan, apa nggak jatuh yang di atas sana? Dan kalau sampai jatuh apa nggak remuk hancur luluh lantak menjadi seperti debu atau tempe penyet?

Seharusnya mereka mengerti akan hal ini…

Cuma masalahnya, seperti yang sudah Simbah sampaikan, bahwa kita ini kurang tinggi badannya, makanya para elit yang mewakili kita pun juga nggak terlalu bisa menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Dan hal ini akan terus berlanjut sampai kapanpun negara ini berdiri. Karena selalu dan selalu, siapa pun yang jadi elit politik: tingginya kurang tinggi jadi nggak akan bisa menjunjung tinggi!

Bagaimana solusinya?

Bukan Simbah kalau nggak punya solusi yang bagus, tapi tetap sederhana dan mudah dipahami.

Nasihat Simbah Guno Rumekso:
Ono Dino Ono Upo
Free translationnya: “there’s always a rice for everyone, everyday “
Selalu ada sebutir nasi buat semua orang setiap hari.

Harus ada pendidikan politik yang didesain dengan cara terstruktur dan kontinyu. Dari sejak berada di buaian sampai ke liang lahat…

[mohon dimengerti istilah ‘sampai ke liang lahat’ itu bukan jenasahnya lho yang disuruh belajar politik, kan dia nggak bisa jalan…tapi para pengantar jenasah itu yang masih bisa jalan sampai ke liang lahat yang perlu belajar politik, mungkin gitu maksud Simbah]

Yang arahnya, setiap orang, siapa pun dia, jika kelak jadi elit politik, harus selalu menyadari bahwa ono dino ono upo.

Sehingga dia tidak hanya mikir sekarang saja, bagaimana agar dia tercukupi kebutuhannya, tapi juga mikir jangka lamanya, bagaimana agar semua warganegara Indonesia tercukupi kebutuhannya.

Maksud Simbah gini:
Ono dino ono upo itu bisa jadi kenyataan kalau kita bisa membuat program dan rencana yang terstruktur dan terprogram dengan jelas.

Gambarannya gini, dari jumlah orang Indonesia yang sekitar 200an juta lebih itu, apa yang akan kita butuhkan di masa depan…?

Hal ini bisa dihitung dengan membuat perkiraan berdasarkan:
apa yang sudah terjadi dan apa yang sedang kita alami.

Dihitung seteliti-telitinya.

Sehingga kita bisa tahu bahwa tahun depan, dua tahun lagi, tiga tahun lagi, lima, sepuluh, dan seterusnya…selalu ada sebutir nasi buat semua orang yang menjadi warga negara Indonesia!

Dan kalau ada kelebihannya bisa kita perbantukan ke bangsa lain yang sedang membutuhkan…

[ning kudu mbayar Mbah…soale nanam padi itu sulit dan butuh modal]

[nggak mbayar juga nggak pa-pa, nanti kita tarik pajak sewaktu mereka ngekspor produknya ke sini… wah Simbah licik juga ya, ngasih bantuan kok mikir minta ganti…]

Nah, solusi masalah dari Simbah Guno Rumekso sederhana sekali kan?

[:-) pantas aja lha wong beliau cum laude graduate of UPSP :-]

Menurut perhitungan Simbah, kalau mulai dari sekarang prinsip Ono Dino Ono Upo ini diterapkan maka sekitar seratus tahun lagi kita sudah bisa berharap menjadi bangsa yang selalu bisa menjunjung-tinggi kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Semoga saat itu tinggi kita rata-rata sudah 165 - 180 cm sehingga sudah mencukupi buat para elit politik untuk lebih menjunjung-tinggi kepentingan bangsa dan negara.

[kok nggak sekalian 200 cm Mbah? Bibit, bobot, dan bebetnya kurang. Lagian bisa habis tanpa-bekas mangga dan rambutan tetangga…]

Gitu.

Anda punya solusi lain?
Atau sependapat dengan solusi Simbah?
Atau tidak setuju?

Kirim aja email ke Simbah:
mbah.guno.rumekso@gmail.com

Terima kasih atas perhatian dan kenyetukannya mbaca nasihat Simbah saya yang ngalor, ngidul, ngetan, bali ngulon…dan yang paling penting: opo sedyane kelakon.

Salam hormat dari saya,
Lilik Gunawan

http://jago-bisnis-online.blogspot.com
email: gunawanlilik@gmail.com
keresugihduit@gmail.com

Asyiik nggak ada iklan!!!

( c ) 2009 Lilik Gunawan
“jago bisnis online”

No comments:

Post a Comment

Mohon berikan saran dan komentar Anda di sini. Tidak ada blog yang sempurna, semoga masukan Anda bisa membantu blog ini menjadi lebih baik dan bermanfaat. Terima kasih.