16 June 2009

Ono Dino Ono Upo 6

Ono Dino Ono Upo 6 oleh Lilik Gunawan “jago bisnis online”



ONO DINO ONO UPO 6

When there is a day, there is a rice. Ada hari, ada sebutir nasi.


Mbah Guno Rumekso… is gone!!!

Sepagian nggak kelihatan, jangankan batang hidungnya, kucirnya saja nggak…where does he go?

[Mbah, Mbah, kalau mau pergi-pergi itu mbok ya pamit dulu, jadi kita nggak susah nyarinya]

Forget Simbah saya dulu ya. Mari kita ngomong issue yang lagi sangat penting, yaitu: Pilpres alias Pemilihan Presiden.

Kita semua tahu kalau Pilpres itu kejadiannya tidak lama lagi. Kita juga sama-sama tahu kalau calon Presidennya ada 3: Mbak Mega, Pak SBY, dan Pak Yusuf Kalla.

Yang kita semua sama-sama nggak tahu: siapa calon yang akan dipilih oleh Simbah saya.

[ya jelas lah…hati orang siapa yang tahu, kecuali kalau orangnya jujur kayak saya [?!?], meski nggak usah nanya orang juga tahu siapa capres pilihan saya…dari Sabang sampai Merauke…!!!]

Dengan tingkat intelijensi [moga tulisannya bener…] seperti yang Beliau miliki, pasti Simbah akan milih capres yang benar-benar mumpuni. Dalam artian, siapapun itu yang beliau pilih nantinya pasti harus yang benar-benar bisa bikin betul barang rusak.

Mirip tukang reparasi tivi ya? Yang suka nonton tivi siapa, yang suka nonton sinetron siapa, yang suka liatin penyanyi goyang midal-midul siapa, yang suka ngabisin setrum siapa, yang dapet hiburan siapa,…eh giliran rusak n nggak nyala dia yang harus betulin!

Sama aja kayak para capres kita. Kita berharap sangat banyak sama Beliau-beliau itu. Padahal kita semua tahu bahwa kebanyakan masalah yang ada bukan mereka yang bikin-ulah.

[entah siapa biang-masalah sebenarnya, tiap nanya rumput selalu jawabnya cuma goyang-goyang…]

THE MOST WANTED JOB IN INDONESIA…and…cuma tiga orang yang nglamar!

Serius. Maksud Simbah Guno Rumekso begini: masalah bangsa ini jelas banyak sekali. Tapi pada dasarnya cuma ada satu masalah mendasar yang sangat heboh untuk dipecahkan. Yaitu masalah Ono Dino Ono Upo.

Tanpa bermaksud terlalu menyederhanakan masalah.

Saya yakin bahwa masalah ini amat sangat berpengaruh dalam kehidupan bangsa dan negara ini. Kenapa?

Karena jika salah dalam membuat kebijakan dalam hal mendasar ini maka akan ada banyak orang yang kelaparan. Dan kita semua tahu, “dalam keadaan lapar sering tidak ada kebijaksanaan”.

Dalam masa kekuasaannya yang sekitar 5 tahun, setiap Presiden harus bisa membuat kebijakan yang benar-benar bisa membuat setiap orang Indonesia mendapatkan hak sebutir nasinya.

Kelihatannya mudah, tapi aplikasinya sulitnya minta ampun!!!

Misal: Kalau orang jualan di pinggir jalan diusir-usir, dipentungi, dikejar-kejar, sampai ada yang anaknya kesiram air panas, apakah itu bisa dikatakan adil?

Memangnya apa susahnya ngasih beliau itu ‘sebutir nasi’ sambil ngasih tahu: “Ni Pak sebutir nasi, buat Bapak sekeluarga. Besok jangan jualan di sini lagi ya. Kalau besok masih jualan di sini, Bapak akan saya kasih dua butir nasi. Awas!!!”

Beliau pasti akan menunjukkan kemaluannya, eh, maaf, rasa malunya!

Beliau pasti akan lebih menghormati hukum, aparat hukum, dan ketertiban masyarakatnya. Ya iyalah, malu dong dikasih sebutir nasi di depan orang banyak…

Dan tentu Beliau akan berusaha damai dengan alam sekitarnya dan berusaha mencari tempat lain di mana Beliau akan merasa aman dari penggusuran dan pengusiran.

Tapi apa yang terjadi? Dikasihnya surat pengusiran dan penggusuran. Lalu dibawakan mobil buat ngangkut gerobaknya, sambil dibawakan pentungan juga: ‘awas kalo nggak mau minggat tak sita grobake, tak pentungi sak pole’!

Ya jelas lari. Lha wong nggak ada solusi. Malah masalahnya pindah sana, pindah sini.

Harusnya ada kebijakan khusus, yaitu: kalau ngusir orang harus disiapkan tempat ke mana dia harus pergi. Kalau pun tempatnya nggak sama bagus, minimal mendekati lah. Jadi orang dengan sukarela pergi…


ONO DINO ONO UPO 6

Itu tadi baru masalah regional. Bagaimana dengan masalah internasional?

Ada negara tetangga bikin nuklir. Ini bukan cuma isu tapi benar-benar nyata dan diakui oleh negara itu. Yang di pikiran saya, kalau sampai meledak terus radiasinya sampai sini, Indonesia, apa yang akan terjadi?

Jangankan sebutir nasi, orang hidup saja pasti akan sulit sekali!

Terus ada lagi negara tetangga yang main kapal-kapalan kayak anak kecil saja, ngajak rebutan pulau-pulauan. Apa yang terjadi kalau sampai ada perang antar negara?

Dijamin, kita pasti menang, soalnya pasukan TKI kita sudah siap dengan kekuatan penuh, tinggal nunggu komando saja…cuma masalahnya, siapa yang mau bayar gaji mereka kelak?

Dan kalau nggak ada yang mau bayar mereka, siapa yang mau nanggung jatah sebutir nasi yang seharusnya menjadi hak mereka? Kan sudah capek-capek berjuang mati-matian?

Susah lagi kan?

Akhirnya, seperti solusi yang selalu ditawarkan Simbah, yaitu perlunya dibuat Undang-Undang Ono Dino Ono Upo atau kalau perlu Tap MPR sekalian, biar kuat sekali.

Yang isinya bahwa setiap Presiden harus benar-benar berusaha menjamin bahwa setiap orang Indonesia harus punya jatah nasi tiap hari. Dan tidak boleh ada upaya dari pihak manapun untuk menghalangi setiap orang Indonesia untuk mengakses jatah sebutir nasinya itu.

Sebuah cita-cita besar yang sangat sulit tapi tidak mustahil dicapai…

Asal semua pihak bersatu dan berjuang bersama-sama mewujudkan hal ini.

Akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Entah dari arah mana munculnya, Simbah sudah duduk dekat saya, ngunjuk kopinya. Sruput and segerrr…

Dan seperti tahu saja apa yang menjadi bahan renungannya saya, Beliau berkomentar gini: ‘tadi malam ada maling ketangkep, ikut nggebuki pa nggak?

The answer is NO, a very big NO. Because saya nggak tega…bayangkan, orang sekecil itu, dipukuli orang banyak, bag-bug bag-bug bag-bug. Sampai benar-benar kacau mukanya, sekacau masalah bangsa ini!!!

Masak saya mau ikut nggebugi juga?

Jujur, saya tergoda. Meski bukan ayam kami yang dicuri, tapi saya sangat bisa merasakan penderitaan orang yang kehilangan ayam. Pahit, pegel, jengkel, benci, kecewa, dan perasaan lain yang nggak ada enak-enaknya, campur jadi satu.

Bayangkan, capek-capek melihara tiap hari: ngasih makan, masukin-ngeluarin dari dan ke kandang, nyapu telur tanpa cangkang [:-]… lha kok seenaknya saja main panen. Emang dia punya andil apa?

Belum lagi jika mempertimbangkan perasaan si ayam,
kecil dipelihara dibaik-baikin, giliran mau masuk surga [maaf, surganya ayam: perut pemiliknya. Please understand the simple logic of Simbah ya] eh, diambil orang seenaknya…dibungkus pakai sarung lagi, berempat lagi, di sarung sesempit itu lagi…betapa tersiksanya, hidup ini tidak adil!!!

[mohon dimengerti, ini cuma perkiraan saya, soalnya saya nggak ngerti bahasa ayam :-]

Pada intinya, kejadian seperti ini tidak perlu terjadi kalau negara dan penyelenggaranya benar-benar menjamin setiap warganya untuk mendapatkan hak sebutir nasinya.

Bisa nggak, ya? Kata tokek di rumah tetangga: BISA. Kebetulan, sengaja, atau direkayasa, ya? Emang tokek tahu politik?

Jaman sekarang, siapa sih yang nggak tahu politik?

So, akhir kata, kalau Anda setuju sama solusi Simbah Guno Rumekso dalam mengatasi masalah ini, mohon berikan komentar ya.

Terima kasih.

Salam sruput n suegerrr dari saya,
LILIK GUNAWAN
“Blogger ndesa ikut mbangun bangsa”

Jl. Klepu Bedug
Kutoarjo 54212
Purworejo, Jawa Tengah
Indonesia

http://jago-bisnis-online.blogspot.com
email: gunawanlilik@gmail.com

Tulisan ini sudah melalui sensor dan editing yang banyak sekali. Semoga tidak ada lagi hal-hal yang bisa membuat orang marah.

Kalaupun ada yang merasa keberatan dengan adanya tulisan ini mohon disampaikan ke sana ke mari, terutama ke saya sendiri. Sehingga setelah saya mengerti, bisa segera saya perbaiki.

Atau lebih baik saya bikin tulisan baru lagi.

TIDAK ADA MAKSUD UNTUK MERUGIKAN ATAU MENDISKREDITKAN PIHAK MANAPUN JUGA.

( c ) 2009 Lilik Gunawan
“jago bisnis online”

No comments:

Post a Comment

Mohon berikan saran dan komentar Anda di sini. Tidak ada blog yang sempurna, semoga masukan Anda bisa membantu blog ini menjadi lebih baik dan bermanfaat. Terima kasih.